Rumah Dunia

Mesin Tik di Rumah Dunia

Alam memang tak bisa dikalahkan. Semua ikon spot foto selfie di Rumah Dunia rusak. Mulai dari “love”, payung warna-warni rusak ditaklukkan alam. Tersisa tinggal gerbang masuk ke pinky library, dengan dua mesin tik bekas menggantung dan tulisan Rumah Dunia. Silahkan berfoto di sini sebagai penanda pernah datang ke Rumah Dunia.

Iklan
Gong Smash

Jokowi dan Prabowo Lagi

Pencoblosan tinggal seminggu lagi. Anda akan mencoblos paslon nomor berapa? PadaPilpres 2014, saya memilih Prabowo tanpa membenci Jokowi. Kemudian Jokowi menang. Saya tentu penasaran, siapa Jokowi dan mendoakan, agar amanah. Saya bersimpati kepadanya, karena sering dikaitkan ke PKI. Begitu juga Prbowo, saya bersimpati, karena selalu dikaitkan ke kisah penculikan para aktivis.

Di Pilgub Banten 2017, pasangan Rano Karno – Embay Mulya Syarief terhubung ke Jokowi dan diserang issue PKI serta kristenisasi oleh kubu Wahidin – Andika (anak Atut, mantan gubernur Banten yang kini dipenjara karena kasus korupsi). Prabowo dengan Gerindra mendukung kubu dinasti Banten. Saya sempat mengirim WA ke Fadli Zon ( kami berteman di dunia kesenian) menanyakan hal ini, tapi tidak berbalas. Lanjutkan membaca “Jokowi dan Prabowo Lagi”

Gong Traveling

Nasi Pecel Mojokerto

Jika ke Jawa Timur, ada 2 jenis makanan yang selalu mengundang selera. Yaitu nasi rawon dan nasi pecel. Saya jatuh cinta pada kuliner nasi pecel di Mojokerto ini. Tepatnya nasi pecel Madiun dan sambal tumpang hajjah Sarkiyah, Jl. Pahlawan no 1. Dari stasiun Kereta ke Timur. Ayam kampungnya, uenaaaaak tenan. Pertama kali sarapan di sini bersama guru dari MAN Kota Mojokerto, Sabtu 30/3/2019. Minggu pagi ini, 31/3/2019, bersama Pak Sahroni, Kepala Sekolah SMK Brawijaya. Saya malu-malu bertanya, “Boleh nambah lagi brutu ayamnya, Pak?” Oh, boleeh.

#kuliner
#nasipecel
#mojokerto 

Gong Traveling

Porter

Setiap berpergian, saya upayakan mencari porter. Profesi ini harus kita support, agar mereka tetap bersemangat bekerja. Di bandara Soekarno – Hatta, mereka tidak mau lagi menerima bayaran. Saya paksa juga tidak mau. Itu bagian dari pelayanan bandara, kata mereka. Di beberapa bandara setingkat provinsi masih ada. Mereka sudah menyambut kita di pintu terminal kedatangan. Sisihkan sekitar Rp. 25 ribu – Rp. 50 ribu, mereka akan tersenyum bahagia. Sedangkan di stasiun kereta, seperti Gambir, porter masih ada. Semoga profesi ini tidak hilang. Jika porter kita pertahankan, itu sama dengan kita mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan.