Pulang dari Haji

Cerita pendek oleh Gol A Gong

Akbar tersenyum lebar. Dia duduk di kursi singgasana, bersarung poleng, koko, kopiah, yang kesemuanya dia beli di Arab Saudi, negeri muslim dengan kekayaan melimpah ruah. Tasbeh dengan bulatan-bulatan terbuat dari kacang zaitun menggantung di tangan kirinya. Tangan kanannya untuk yang keseratus kali menerima uluran salam selamat dari tetangga di komplek guru.

“Alhamdulillah, selamat datang kembali di rumah, Pak Haji…”

Akbar semakin melebarkan senyumnya. “Silahkan, Pak Wawan, silahkan diambil oleh-olehnya. Itu korma asli dari Mekkah. Sedikit-sedikit, ya. Sajadah dan tasbehnya hanya untuk kepala-kepala sekolah saja. Tidak bisa saya kasih ke semua guru. Bisa tekor saya.”

“Tidak apa-apa, Pak Haji. Kurma saja sudah alhamdulillah,” sebagai guru bawahan, Wawan tahu diri.

“Istri saya sudah membagi-bagi dengan rata. Satu plastik berisi 5 kurma. Rata-rata di komplek  guru ini, anaknya dua ‘kan. Saya lebihkan satu.”

“Kebetulan anak ketiga kami baru lahir seminggu yang lalu…”

“Wah, alhamdulillah! Pasti akan jadi anak yang soleh, Pak Wawan. Lelaki?”

“Lelaki, Pak haji. Saya dan istri mohon ijin, memberi nama pada anak kami….”
“Namanya siapa?”

“Muhammad Akbar Mabruri….”

Akbar tertawa senang. Perutnya yang buncit terguncang-guncang. “Kamu ini! Bilang-bilang dulu, kek! Tapi, tidak apa-apa. Saya doakan, semoga jadi anak yang soleh, sehat, dan berhasil jadi orang terpandang seperti saya!” katanya mendoakan.

“Amien, Pak Haji….”

“Kalau saja saya dikabari saat di Mekkah, pasti saya doakan di depan Ka’bah!”

“Tidak apa-apa, Pak Haji. Belum jodoh…”

“Ya, sudah. Masih banyak yang antri mau salaman itu!”

“Iya, Pak Haji….”

“Sebentar!” Pak Haji mengeluarkan sebuah amplop dari saku kokonya. “Saudara-saudara!” suaranya keras kepada orang-orang yang sedang berkumpul di ruangan tengah rumahnya. “Jangan pada iri, ya! Walaupun Pak Wawan ini guru paling muda di sekolah saya, tapi karena dia punya momongan lagi, yang ketiga, saya kasih amplop sama dia! Ini buat beli popok si bayi!”

“Wah, pilih kasih, Pak Haji!” protes Arifin.

Para warga komplek tertawa menangapi. “Anak saya, yang di te ka, si Usi, ulang tahun, kasih kado, Pak haji!” usul Yasin, juga tertawa.

“Nanti saya kasih kado unta! Tapi tahun depan, kalo saya naik haji lagi!” Akbar juga tertawa.

“Hahaaaahaha…!” semua tertawa.

Warga kompolek guru yang bahagia, semua tertawa.

 “Ini, ambil! Alakadarnya, ya,” Akbar menyusupkan amplop putih itu ke saku kemeja batik Wawan.  “Sebentar,  ya,” Akbar mencari-cari seseorang di antara keramaian rumahnya. “Santi!” panggilnya.

Santi yang sedang membagi-bagikan minuman ke para tamu menatap ke ayahnya. “Iya, Pak!”

“Ambilkan air zam-zam di kamar Bapak. Satu saja. Buat Pak Wawan!”

“Baik, Pak!”

“Silahkan, tunggu diluar, ya.”

“Terima kasih, Pak Haji,” Wawan mundur dan memberi kesempatan pada warga komplek guru lainnya untuk menjabat tangan Akbar, kepala sekolah di SMA Negeri ternama di kotanya.

Beberapa warga komplek guru masih antri menyalami Akbar dengan beragam tujuan. Ada yang murni memberi selamat, ada yang ingin kecipratan berkah: siapa tahu suatu saat bisa ke Mekkah, dan ada yang berharap bisa mendapatkan oleh-oleh kurma asli dari Arab atau air zam-zam.

Sape kien[1]?” Akbar menarik tangannya, ketika dirasakan permukaan telapak tangan orang yang menyalaminya terasa kasar.

Kule[2] Pendi, Pak Haji….”

“Oh, sing ngebecak kuen? Sing umahe ning kampung Pasir[3]?”

“Nggih, Pak Haji…..”

Arep jaluk oleh-oleh ape sire[4]?”

Ape bae[5], Pak haji….”

Korma bae, gih! Anak sire pire[6]?”

Papat[7], Pak haji!”

Weh, akeh amat! Keh, sebungkus bae. Ane lime isine. Sire karo rabi, sepotong-sepotong bae, gih[8]!”

“Iye, Pak Haji! Nuhun saos[9]!”Pendi meminggir, memberi kesempatan lain. Di genggaman tangannya ada sebungkus plastik berisi 5 korma.

Warga komplek guru terus mengalir menyambut kedatangan Akbar, yang sudah selamat pulang dari Mekkah. Saat walimatul hajj, Akbar pernah menjanjikan akan menyebut nama para warga di depan Ka’bah, agar kelak bisa berangkat mengikuti langkahnya menunaikain rukun Islam yang kelima.

Malam makin larut.  Yang tersisa kini adalah pengurus Dewan Kesejahteraan Mesjid. Mereka duduk bersila di lantai berkarpet, menengarkan cerita Akbar, yang duduk di kursi ukiran Jepara.  Kedua tangan Akbar bergerak ke sana ke kemari, tasbeh di tangan kirinya berkelebatan di udara, seolah memuncratkan kalimat-kalimat thoyiban milik gusti Allah. Perutnya yang bulat besar berguncang-guncang jika sedang tertawa.

“Pas di depan hajar aswad, ada orang dari Afrika. Tinggi, besar, dan hitam. Pokoknya, jeleklah. Mendorong-dorong tubuh saya! Di depan, istri saya hampir terjatuh. Saya berusaha terus menjagai istri saya. Waduh, saya bisa-bisa terjatuh. Bayangkan, bapak-bapak, ibu-ibu, jika saya terjatuh. Ribuan, bahkan jutaan jamaah haji, akan menginjak-injak tubuh saya. Wah, pulang-pulang, saya tinggal nama saja!”

Istrinya duduk di lantai berkarpet, menyenderkan punggungnya ke dinding. Beberapa kali dia menguap dan menggeser-geser tempat duduknya. Kedua bola matanya diam-diam mengitari pandang, memperhatikan wajah-wajah takjub warga komplek guru.

“Tidak ada jalan lain, saya bertahan saja. Saya membiarkan istri saya yang mencium hajar aswad. Saya sendiri terlempar ke samping. Entah ke mana. Yang penting nggak jatuh. Tapi, saya terpisah dengan istri saya. Ketemu-ketemunya diluar. Dia lagi nangis!” Akbar tertawa-tawa menunjuk istrinya.

Istri Akbar, tersenyum kikuk.

“Pak Akbar,” Cecep mengacungkan tangan.

Akbar tidak bereaksi.

“Pak Haji,” bisik Sofyan di telinga kiri Cecep.

“Maaf, Pak Haji,” Cecep tersenyum meralat.

“Ya, kenapa, Pak Cecep?”

“Maket mesjidnya sudah selesai saya buat, Pak Haji. Kapan kita bisa mendiskusikannya?”

“Sebaiknya jangan membicarakan soal mesjid sekarang,” kata Aris. “Pak Haji ‘kan masih banyak yang mau diceritakan. Iya ‘kan, Pak Haji?”

“Ya, ya, ya! Betul kata Pak Aris!” Akbar setuju. “Soal mesjid, kita bicarakan ba’da Jumatan saja. Bagaimana?”

“Setuju!”

“Tapi, tetep ya, saya dapat sepuluh persen dari setiap dana yang masuk ke mesjid. Karena tanpa lobi-lobi saya di pemerintahan, dana itu tidak akan cair!” Akbar membuka matanya lebar-lebar.

“Setuju, Pak Haji! Yang penting bagi kami, mesjid cepat selesai!”

Akbar tersenyum puas. Tangan kirinya terus menghitung bulatan-bulatan tasbeh. Sementara tangan kanannya mengelus-elus perutnya yang buncit. Kedua matanya tertutup perlahan. Punggungnya menyender ke kursi Jepara. Dari mulutnya terdengar suara keras.

“Maaf, Bapaknya kecapean,” istri Akbar melempar senyum.

Orang-orang memaklumi. Satu-persatu mereka beringsut pergi. Di tangan mereka ada bermacam oleh-oleh dari Mekkah; korma, air zam-zam, tasbeh, sajadah, mukena, dan kacang Arab. Mereka sebetulnya tahu, kalau pada suatu malam, Akbar dan istrinya bebelanja di Tanah Abang. Mereka juga memaklumi, ketika dimintai untuk membungkusi sajadah, kopiah, tasbeh, dan mukena. Mereka hanya bisa menghitung-hiutng, bahwa naik haji semakin hari semakin mahal saja harganya. Tidak hanya cukup sekadar ongkos pulang-pergi saja, tapi perlu juga menyediakan dana tambahan unutk walimatul hajj, syukuran, dan oleh-oleh. Jika tidak ada oleh-oleh, siap-siap saja dicap sebagai haji yang kikir.

Tiba-tiba mata Akbar memicing, “Sudah pulang semuanya?”

“Sudah,” jawab istrinya, menoleh ke sudut ruangan. Di sana ada dua orang lelaki, duduk gelisah. Tangan mereka tidak henti-hentinya menyeka wajah dengan sapu-tangan.

“Ibu, kipas anginnya arahkan ke mereka, dong!”

Istri Akbar tanpa banyak bicara mengarahkan baling-baling kipas angin ke arah mereka. “Permisi, saya tinggal dulu,” dia bangkit dan masuk ke ruangan dalam.

Akbar masih memandangi punggung istrinya hingga hilang di balik gorden yang memisahkan ruangan tamu dengan ruangan tengah. Dia membeli dua rumah di komplek guru ini, sehingga ruangan tamu lumayan luas menampung orang-orang jika ada acara.

“Bagaimana, lancar semuanya?” Akbar tersenyum lebar kepada mereka. Dia tetap duduk di singgasananya, sehingga posisinya tetap lebih tinggi dari mereka. Bagi dia sangat penting menegaskan, bahwa posisinya sangatlah penting.

Kedua orang itu mengangguk. Salah seorang mengeluarkan amplop tebal dari dalam tas hitam. Amplop tebal itu disodorkan ke Akbar. “Ini bagian Pak Haji,” katanya.

“Pak Kadis titip pesan, Pak Haji secepatnya membuat laporan, bahwa sekolah Bapak sudah direnovasi.”

***

*) Rumah Dunia, Kampung Ciloang, Serang, Oktober 2005

[1] Sape kien = siapa ini

[2] Kule = saya

[3] sing ngebecak kuen? Sing umahe ning kampung Pasir= yang ngebecak itu? Yang rumahnya di kampung Pasir?

[4] Arep jaluk oleh-oleh ape sire = mau minta oleh-oleh apa?

[5] Ape bae = apa aja

[6] Korma bae, gih! Anak sire pire = korma saja, ya. Anak kamu, berapa?

[7] Papat = empat

[8] Weh, akeh amat! Keh, sebungkus bae. Ane lime isine. Sire karo rabi, sepotong-sepotong bae, gih = Waduh, banyak amat! Nih, sebungkus saja. Isinya
lima. Kamu samas istri setengah-setngah saja.

[9] Nuhun saos = terima kasih

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s