Dilanku

Sebelum menonton film “Dilan 1990” sempat terjadi diskusi kecil dengan istri. “Jangan sama anak-anak. Berdua saja.” Aku justru tidak setuju. Aku beri pengertian, bahwa ini adalah saat yang tepat mengenalkan dunia remaja kepada putra ketiga dan si bungsu, yang sudah ABG – anak baru gaul. Film bisa kita jadikan sarana pembelajaran. Yup, akhirnya Senin 5 Februari, bersama Tias dan Bella (19 th), Jordy (14), Azka (13) nonton. Di lobi Cinemaxx, Mall of Serang, penonton mengantri. Tias sudah beli tiket secara online. Saya bergumam, “Waduh, ortu jadul seperti saya , kok, nonton?” Tapi, saya menonton film “Dilan 1990” karena sebagai sesama orang kreatif. Saya penasaran, bagaimana penggarapan filmnya hingga hampir menembus 4 juta penonton!

Saat menulis review ini, saya harus menahan diri. Tapi, saya harus jujur. Di sebelah saya duduk Jordy – 14 tahun, putra ketiga. Sambil ngemil pop corn (kata Jordy, wajib hukumnya nonton sambil nge-popcorn), Jordy sangat menikmati dan tertawa jika ada dialog yang lucu. Seusai nonton, saya menjelaskan kepada Jordy, “Tirulah yang baiknya. Tapi, kalau tidak ada yang baik, ya sudah, abaikan saja filmnya. Tapi, itulah dunia remaja seperti kamu. Ada yang baik dan ada yang badung.”

Saat makan malam di rumah, saya mengumpulkan ketiga anak saya. Bella yang belajar di China sedang liburan. Gabriel sudah kembali ke Abu Dhabi. Saya persilahkan Tias untuk memulai diskusi, “Jangan tiru Dilan saat mukulin gurunya, ya. Kita harus menghormati guru. Harusnya ada cara yang lebih sopan jika tidak setuju dengan cara guru. Pidi Baiq di filemnya tidak menuntaskan persoalan Dilan dan Suripto.”

Protes Tias bisa saya terima. “Capek, nontonnya,” tambah Tias. Mungkin film Dilan tidak cocok untuk Tias, yang sudah 40 ke atas. Ups!

Saya mencoba menjelaskan, bahwa karakter Dilan “antagonis”, berbeda dengan tokoh Fahri yang “protagonis”. Jadi, karakter buruk dari Dilan jangan ditiru. Di twitternya Pidi Baiq menulis,  “Dan jangan pernah ditiru apa-apa yang buruk dari Dilan. Dia sendiri mengaku lebih banyak melakukan kesalahan dan keburukan yang perlu dimaafkan. Tetapi saya lbh suka mengadili diri sendiri daripada mengadili orang lain. Hanya Allah Yang Maha Suci. Hanya Allah Yang Maha Benar.”

Bella tidak suka dengan film Dilan. Tampaknya Bella termasuk ke generasi Fahri. Setelah sholat Maghrib berjamaah, saya memberi wawasan kepada Bella, bahwa banyak cara berdakwah. Kang Abik berdakwah lewat tokoh Fahri yang baik, dan Pidi Baiq dengan Dilan yang buruk. “Dan papahmu ini berdakwah lewat tokoh ‘Roy’ nanti!”

Bagi saya nonton ke bioskop itu seperti sedang bercermin. Para film maker berupaya menyuguhkan karyanya sebaik mungkin. Jika di film yang kita tonton ada hal-hal jelek, bukan berarti penonton harus meniru. Ada film yang pemerannya baik seperti “Fahri” di film “Ayat-ayat Cinta 2”, juga pro dan kontra. Yang kontra malah juga mencaci-maki atau nyinyir. Sekarang film “Dilan”, hehehehe…, juga pro kontra, karena karakter “Dilan” buruk.

Di dalam hidup ini seperti siang dan malam. Fahri di siang, Dilan jenis malamnya. Karya seni (film) tidak bisa memuaskan semua orang, karena seni bukan barang pemuas nafsu. Tidak apa-apa, kita tetap bisa belajar dari kedua karakter tokoh rekaan itu. Bagi saya, nonton ke bioskop adalah untuk bersenang-senang. Saya merasa yakin, anak-anak saya tidak akan terpengaruh untuk melakukan hal-hal buruk hanya karena nonton film. Saya dan Tias tidak sembarangan mendidik anak.

Nah, tentang filmnya itu sendiri, lumayan. Adegan perkelahiannya bagus. Saat naik motornya bagus dan romantis. Saat sekolah diserang geng motor juga bagus. Tapi, dari segi alur memang harus dikuatkan lagi. Misalnya, saat Dilan melawan guru. Apalagi Dilan itu panglima tempur geng motor. Geng Brigez, Moonraker, BBC di Bandung sudah milik publik. Mereka tidak sungkan mematikan geng lawan. Para pelajar yang tewas mewarnai perjalanan geng motor di Bandung. Sudah jadi legenda.

“Yang saya lawan bukan guru, tapi Suripto!” teriak Dilan.

Tidak ada agedan penyelesaian antara Dilan dan guru Suripto. Dilan meninggalkan ruangan BP. Tapi, mungkin pembuat filmnya sedang mencoba membuka ruang imajinasi penonton, agar membuat sendiri adegan-adegan berikut – seperti yang diinginkan –  di benaknya. Keinginan saya, Kepala Sekolah mendamaikan Dilan dan guru Suripto. Supaya tidak terlalu verbal, mungkin.

Di dunia nyata murid melawan guru sudah tidak aneh. Kabar terbaru, guru Budi di Madura, tewas dianiaya muridnya. Akal kita jadi terganggu. Bukankah Madura itu identik dengan dunia pesantren, santri dan ulamanya? Tapi, anak muda yang sedang galau memang begitu. Jika orang tua tidak mendampingi, maka bisa-bisa salah jalan.

Dialog-dialog Dilan gombal, khas remaja. Selama menonon, saya mengamati para penonton. Mereka mengikuti setiap dialog Dilan – Milea yang kasmaran dan tentu gombal. Tapi para remaja menyukai itu. Kita pernah jadi remaja. Kita pernah melakukan kesalahan. Dan kita memperbaikinya.

Saran saya, jika ada film Indonesia, ajak keluaga menontonnya. Kenali lebih dalam. Sepulang nonton, diskusikan. Sarana pembelajaran bisa dari mana saja, di mana saja. Mall tidak lagi jadi bangunan yang “menyeramkan” dan perlu dihindari. Tapi, jadikan bioskop sebagai destinasi belajar selain toko buku. Kita pergi ke masjid harus, tapi ke bioskop juga tidak mengapa.

Setting lokasi Bandung minimalis, karena memang sulit mencari Bandung 1990. Tidak apa. Penonton tidak merasa terganggu. Kehadiran Ridwan Kamil menyegarkan suasana. Celetukan dalam bahasa daerah (Sunda) mewarnai dan lucu. Pidi Baiq (cameo) muncul sebagai tukang koran, mengantarkan coklat. Ikon-ikon 90-an muncul di kaos, poster; ada Mick Jagger dan Jim Morisson. Dan novel “Olga” karya Hilman, yang dibaca Milea. Wah, Pidi Baiq pilih kasih. Padahal saya dan Pidi Baiq berteman, kok, tidak ada novel “Balada Si Roy” karya saya, yang sebentar lagi difilemin, sih? Hehehehe…

Selamat kepada Pidi Baiq dan kawan-kawan! Masyarakat Indonesia sudah senang pergi ke bioskop. Hidup memang untuk bersenang-senang. Dan ibadah adalah cara bersenang-senang itu. (Gol A Gong)

 

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Dilanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s