Essay

Petilasan Prabu Siliwangi dan Gol A Gong

Oleh Kang Zeze Guru

Pada hari pertama di Kuningan, Rabu 21 November 2018, Mas Gol A Gong meminta kepada saya diantar ke Cibulan; ingin melihat ikan dewa, jelmaan prajurit Padjadjaran dan petilasan Prabu Siliwangi. Lanjutkan membaca “Petilasan Prabu Siliwangi dan Gol A Gong”

Iklan
Essay

Guru Garis Depan di Manokwari

Ketika lulus SMA, saya ingin sekali jadi pekerja sosial. Mendaftar ke STKS di Bandung, dua kali gagal terus. Kata Dinas Sosial di Bandung saat itu (1982-an), “Kamu ini cacat, malah mau ngurusin orang normal. Kamu yang harusnya diurusi negara!” Hmmm… Akhirnya saya terdampar di Fakultas Sastra UNPAD Bandung . Eh, berlabuh juga sebagai relawan di Komunitas Rumah Dunia.   yang gencar menggelorakan semangat “literasi untuk hidup lebih baik”. Saya dengan “Gempa Literasi”, bisa keliling dunia. Seperti pada 2 – 5/11/218, saya bisa ke Manokwari, menyulut “gempa literasi” bersama Noken Pustaka dari Pustaka Bergerak dan Guru Garis Depan. Lanjutkan membaca “Guru Garis Depan di Manokwari”

Essay

Koran Pagi di Singapura

Terdengar suara Adzan subuh yang merdu Dari Mesjid Sultan. Kalau di negeriku, adzan subuh bisa jadi masalah, bahkan pernah saling bunuh-bunuhan. Ah, lupakan masalah itu! Aku bergegas mengambil sikat gigi dan odol. Tidak mandi lagi, karena sudah tadi malam. Aku paling suka sholat subuh di sini. Itu sebabnya aku selalu menginap di Adamsonn Inn setiap ke Singapura, yang persis di depan mesjid Sultan. Lanjutkan membaca “Koran Pagi di Singapura”

Essay

Ziarah ke Pulau Gurindam 12

Untuk yang kesekian kali, aku berziarah ke Pulau Penyengat, Tanjung Pinang , Sabtu 13/10/2018 . Matahri sudah ke barat. Adzan Ashar sayup-sayup terdengar dari arah dermaga. Biaya ke pulau penyengat dengan sampan atau pompong Rp. 8000,- Jika belum pernah naik perahu kecil ini, pasti mengalami kegelisahan, apakah perahu akan terbalik atau tidak. Di pulau ini ada makam Raja Ali Haji (1808 – 1873), yang menulis Gurindam 12.  Ini Gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat.
Lanjutkan membaca “Ziarah ke Pulau Gurindam 12”