Dewan Kesenian Banten Setelah Chavchay

Era Rano Karno sebagai Plt Gubernur Banten (2013 – 2017), Dewan Kesenian Banten tidak lagi hanya milik seniman yang dekat dengan Disbudpar Banten (dan dinasti) , tapi milik semua seniman. Sangat terbalik ketika di era Atut sebagai gubernur (2003 – 2013), dimana pengurusnya main tunjuk saja. Juga kegiatan-kegiatannya tidak transparan, alias hanya diketahui oleh Allah SWT, seniman terplih dan Disbudpar Banten saja. Di era Rano Karno, saya dan Firman Venayaksa yang dekat dengan Rano Karno, diminta untuk mengurusi DKB. Jika saat itu mau, saya terima saja tawaran Rano untuk jadi Ketua DKB. Bahkan Firman pun menolak. Kami tidak memiliki sifat haus jabatan. Kami lebih mendukung geliat yang muda-muda dengan cara demokratis. Lanjutkan membaca

Iklan

Calon Tunggal, Kotak Kosong dan Politik Uang di Banten

selamat datang di negeri kalkulasi
tak apa bicara soal bakul nasi
ini negeri demokrasi
mari hormati hak azasi

  • Catatan yang tercecer oleh Gol A Gong

Di awal April ini ada “peristiwa politik” yang menarik bagi Orakadut – si gila dari kota Golokalle. Pertama, pada 4 April 2018, di D’java Cafe, Jalan Saleh Baimin, Serang , IWO (Ikatan Wartawan Online) Banten menyelenggarakan diskusi “Potensi Penyelewengan Uang Negara Untuk Pilkada”. Leo Agustino, akademisi UNTIRTA Serang melemparkan analisanya, “Gerakan Pro Demokrasi di Banten sudah selesai. Di awal gerakannya gencar melawan dinasti, sekarang berbondong-bondong mengusung dinasti.” Lanjutkan membaca

Terbang Menembus Langit

Ketika Fajar Nugros menghubungi saya untuk memfilmkan “Balada SiRoy“, awalnya saya ragu. Saya sudah lama tidak “gaul” di film sejak mengundurkan diri dari RCTI (2008). Saya hanya mengenal Fajar sebagai sutradara film komedi. Sedangkan #BaladaSiRoy serius. Tapi ketika tahu Fajar menyutradarai “Jakarta Undercover” (Moamar Emka) dan “Terbang – Menembus Langit”, saya merasa lega. Apalagi Susanti Dewi sebagai produser Demi Istri Production serius menggarapnya. Sebelum tayang 19 April 2018 nanti, film “Terbang” sekarang sedang sosialisasi dalam bentuk road show keliling Indonesia. Lanjutkan membaca

Mencari Tubagus di Banten

Bismillah. Apalagi yang harus kutulis tentang Banten, selain menunggu “Tubagus” yang rendah hati dan memahami, bahwa jadi pemimpin itu pengabdian, bukan lowongan pekerjaan yang menguntungkan kelompok atau golongannya saja. Andakah “Tubagus” itu? Jangan pernah mengaku “Tubagus” jika segala pesoalan harus diselesaikan dengan golok. Banten zaman now harus dengan “saatnya otak, bukan otot”. Jika masih memakai cara-cara lama itu, Anda patut malu kepada para sultan yang merebut Banten dari kerajaan Sunda. Anda memiliki gelar “Tubagus” itu bukan karena pencapaian, tapi karena diwarisi saja.