Orakadut

Orakadut Menuduh Gubernur Si Ratu Ular

Setelah diusir dari kota Golokali, karena mengkrifik sang Gubernur, Orakadut hanya ditemani seorang teman, yaitu keledai. Dia masih berbicara dengan keledainya. Semua warga Golokali kini memangilnya “Orang Gila”. Tapi dia bahagia dan selalu mengingatkan warga, “Aku gila, karena Gubernurku lebih gilaaaaa!”

Gubernur Golokali makin penasaran.dengan tingkah laku Orakadut. Dia mendapat bisikan dari Sekda dan para kurcacinya, bahwa.Orakadut jadi gila, karena dirinya sebagai Gubernur juga gila.

“Panggil Orakadut ke pertemuan.pagi. Bawa keledainya. Undang semua warga Golokali!” titah Gubernur.

Di hari Jumat yang cerah, alun-alun kota dipenuhi warga. Gubernur duduk di singgasana dengan kepala terdongak. Suami Gubernur duduk sambil mengelus-elus kucing Persia.

“Hei, ularmu cantik sekali! Hati-hati, kelihatannya ular itu baik dan lembut, tapi sebetulnya dia mematikan. Apakah kamu tidak takut dibelit dan dimakannya?” teriak Orakadut menunjuk ke arah Suami Gubernur, yang masih saja mengelus-elus kucing Persia.

Gubernur dan Suami Gubernur saling tersenyum. Gubernur berdiri dan menenangkan warga yang mengejek Orakadut.

“Rakyatku semuanya! Tadinya aku tidak percaya kalau Orakadut gila dan menganggap aku sebagai Gubernur.lebih gila! Tapi, ketika melihat sekarang, kita sepakat ya kalau Orakadut memang gilaaaa!”

“Orakadut gilaaaaa!”

“Lihat, kucing saja dianggapnya ular! Hanya orang gila yang punya pikiran seperti itu! Dasar Orakadut gilllllaaaa!”

Orakadut tiba-tiba tertawa keras. Dia berbicara kepada keledainya. “Hey, keledai. Lihat, mereka! Aku memang gila, karena Gubernurku lebih gila, ya. Tapi walau pun aku gila, aku masih bisa bicara dengan kucing! Dan aku bisa melihat rupa asli kalian! Bukan begitu, kucing?” Orakadut menunjuk kucing yang dipangku suami gubernur. Kontan si Kucing mengeong.

Gubernur terkejut, wajahnya yang terbuat dari plastik memerah. “Ini penghinaan! Fitnah!” teriak Gubernur gundah.

Suami Gubernur berdiri memeluk kucing dengan keras. Kucing itu meronta-ronta. Gubernur mundur beberapa langkah. Warga Golokali bergemuruh.

“Ayo, lompat, lompat! Sebelum ular itu memakanmu!” Orakadut juga melompat ke keledainya dan memacunya, kabur.

Kucing pun melompat, mengejar Orakadut Suami Gubernur berusaha menangkapnya.

Gubernur berteriak, “Tangkap Orakaduuuuut! Dia sudah menghina aku sebagai ulaaaaarrrrr!”

Kini Orakadut jadi buronan.


 

*) Little India, Singapore. 7/1/2017

Iklan
Orakadut

Kota Golokali Jadi Banci

Orakadut, si gila dari kota Golokali lapar. Maka dia menari-nari tanpa stelan jas kumalnya di depan rumah makan. Dia cuma memakai kaos oblong bolong. Jas kumalnya dia sampirkan di punggung keledai, yang sedang makan sisa makanan di tongsampah. Semua orang sudah tidak peduli lagi, karena seperti anggota dewan kota Golokali, Orakadut tidak punya kemaluan. Jadi percuma saja melarang-larang Orakadut. Biarkan saja, nanti juga capek sendiri. Lanjutkan membaca “Kota Golokali Jadi Banci”

Orakadut

Takut Waras

Oleh Gol A Gong

“Yang paling saya takutkan di dalam hidup ini, saya jadi waras. Untuk sementara, saya bahagia jadi gila,” Orakadut, si gila dari kota Golokali, dalam sebuah seminar yang diikuti oleh orang waras se Kota Golokali. Kemudian Orakadut turun dari podium, menghampiri keledainya, pergi meninggalkan ruang seminar, dimana orang-orangnya meletakkan jari telunjuk menyilang di jidat. Lanjutkan membaca “Takut Waras”

Orakadut

Patung Kota Golokali

Orakadut, si gila dari kota Golokali, dibuat pusing. Selama 18 tahun dia tinggal di gubuk kardus di kolong jembatan, tiba-tiba hampir setiap saat banyak orang penting datang menggeledah. Mulai dari LSM, seniman, wartawan, pelajar-mahasiswa, ibu-ibu rumahtangga, anggota dewan, kepala dinas, sampai ke pemain bola. Mereka menuduh dia menyembunyikan “jati diri” kota Golokali.

“Kamu pasti menyembunyikannya!” hardik Pak Polisi.
“Menyembunyikan apa?”
“Jati diri!”
“Jati diri apa?”
“Jati diri kita, kota Golokali. Identitas kita!”
“Waduh, orang gila kayak saya, kok, ditanya jati diri!”

Lanjutkan membaca “Patung Kota Golokali”