Sastra

Bilal

Cerpen Oleh Gol A Gong

 

Nasrul bangkit. Hati-hati dia melangkahi beberapa tubuh yang hanya bercelana pendek saja. Kamar kontrakan yang berukuran 3 kali 3 meter ini diisi lima orang. Dibukanya pintu. Udara subuh membuat kamar kontrakan yang pengap terasa sejuk.

“Nyamuk, Rul, tutup lagi,” Iman menggeliat dan menggeser tubuhnya ke dekat dinding, tempat dimana tadi Nasrul tidur.

“Sudah subuh….”

“Iya. ‘Ntar aku nyusul….”

“Aku ke mesjid ya…,” Nasrul menjumput sarung poleng yang tergantung di dinding.

Iman tidak menjawab.  Lanjutkan membaca “Bilal”

Iklan
Sastra

Kota Kelahiran Ditinggalkan, Membangun di Perantauan

Kota yang Ditinggalkan Penghuninya

Oleh Gol A Gong

Selamat tinggal kotaku, aku tak akan kembali
kenangan indah padamu, sudah kukunci di bagasi
album foto cinta di dalam dus, kutandai pita hitam
kini terbentang kota baru, di peta perjalanan

Selamat tinggal kotaku, aku tak akan kembali
hidup harus saling memberi kesempatan

lihat wajah pucat tubuh kurus, berjejer di kotamu
mencari harapan baru, penuh api kepadamu

Seiring waktu, kau daun kering
menjauh dari tanah
batu nisanmu tak bernama
pusaramu berumput liar

*) Rumah Dunia, Serang 19 Maret 2013

 

Lanjutkan membaca “Kota Kelahiran Ditinggalkan, Membangun di Perantauan”

Sastra

Kotaku dalam Puisi

Bagaimana perasaanmu terhadap kotamu sendiri? Sedih, marah, kecewa? Kepada siapa? Walikota, Bupati atau gubernur? Sudahkan kamu menegur mereka, agar memperbaiki kinerjanya? Kotaku sendiri tak memiliki jiwa. Ada tapi seolah tak berpenghuni. Maka, kutulis sajak-sajak ini:
#1.
KOTA YANG DITINGGALKAN PENGHUNINYA
Selamat tinggal kotaku, aku tak akan kembali
kenangan indah padamu sudah kukunci di bagasi
album foto cinta di dalam dus kutandai pita hitam
kini terbentang kota baru di peta perjalanan
Selamat tinggal kotaku, aku tak akan kembali
hidup harus saling memberi kesempatan
lihat wajah pucat tubuh kurus berjejer di kotamu
mencari harapan baru penuh api kepadamu
Seiring waktu kau daun kering menjauh dari tanah
batu nisanmu tak bernama pusaramu berumput liar
*) Rumah Dunia, Serang 19 Maret 2013

Lanjutkan membaca “Kotaku dalam Puisi”

Sastra

Puisi Gol A Gong : Merpati

Kau pergi lagi, aku hanya bisa menuliskan kenangan. Pepohonan di halaman masih rimbun. Rumahmu di sana kujaga. Peta perjalanan kau buka lagi di hadapanku. Ada api di satu kota, katamu. Aku di persimpangan, memilihmu pergi ke arah mana. Suaramu masih membekas di perjanjian itu.

 

Api itu terus berkobar. Aku tahu kau sudah menyiapkan tiket untukku. Aku bingung memakai sepatu lars yang mana, semuanya sudah berdebu dan pernah singgah di kota itu bersamamu.

 

Kau pergi lagi. Apakah ini akhir dari perjalananku? Upacara sudah disiapkan. Jadwal acara menit per-menit diumumkan. Aku tak punya apa yang kau minta. Hujan dan pelangi yang kau rindukan itu.

 

*) 5 Januari 2016

 

*) Gol A Gong; antologi puisinya; Dunia Ikan (2010), Membaca Diri (2013), Kota yang Ditinggalkan Penghuninya (2016) , Kutanam Matahari di Halaman Rumah Kita dan Air Mata Kopi (sepuluh besar “Hari Puisi Indonesia” 2014).