Lima Sajak Laut Gol A Gong

1.
ODE NELAYAN

Negeriku berkibar tanpa arah
angin tak bisa lagi membaca cuaca
aku melempar jala ke muara
cintamu hanyut menuju samudra

Kisahmu yang mendunia
terhempas gelombang
tertimbun lumpur
terang bulan bukan lagi untukku
ikan-ikan berpindah ke dalam kaleng
aku melarung perahu
tanpa sesajen

Cintaku, laut menjauh
cakrawala terhalang kapal perompak
kopiku sudah lama dingin
air laut berpindah ke dalamnya

Karangantu Oktober 2017

Lanjutkan membaca

Iklan

Sastra Oh Sastra

Ini bukan puisi apalagi petisi
hanya bermain tipografi saja 
sekadar mengeluarkan pendapat
terkait rusuh sastra di jagat raya
jika tak sepaham maksud hati ini
mohon teman-teman memaafkan
kita tetap bersaudara sebangsa
Lanjutkan membaca

Gadis Pemulung Masuk Televisi

Cerpen oleh Gol A Gong

Aini duduk di pos ronda. Karung teronggok di tiang. Dia menyeka keningya. Punggung tangannya basah. Ini hari panas sekali. Mungkin pertanda akan hujan. Dia baru sekitar 1 jam mengelilingi perumahan; mencari-cari rongsokan. Karungnya baru terisi seperempat. Di bak sampah tikungan jalan komplek, dia hanya memperoleh beberapa botol minuman plastik. Di bak sampah rumah nomor 9, hanya ada 2 botol plastik minuman ukuran besar.  Kerongkongannya kering. Yang dia bayangkan adalah air es. Tapi dia sedang puasa.  Sudah seminggu puasa berjalan, tubuhnya terasa lemah. Setiap sahur, tiada yang bisa dimakannya selain air teh dan ubi rebus. Sekali pernah ayahnya membawa pulang seliter beras. Dengan garam dan daun singkong, dia dan adiknya merasakan sahur yang nikmat sekali. Setelah BBM naik, harga-harga di pasar berlipat-lipat jadinya. Ayahnya hanya penyapu jalanan. Tak mampu berbuat banyak. Aini hanya meminta pada ayah mereka, bahwa sekolah didahulukan. Biar makan sekali sehari ditambah puasa Senin Kamis, urusan sekolah tetap dinomorsatukan. Aini termasuk murid yang cerdas di  sekolahnya, sehingga pihak sekolah meringankan segala biaya tambahan. Sebuah mobil sedan tiba-tiba berhenti di depannya. Kaca jendelanya turun. Aini tersenyum kepada para penumpangnya; dua wanita cantik-cantik. Hmm, pasti tubuhnya harum. Aini membayangkan dirinya secantik mereka. Tapi, wajahnya jelek. Kulitnya hitam terbakar matahari. Rambutnya kemerahan.  Lanjutkan membaca

Kidung Pagi di Pasar Klewer

Aku letakkan bakul berisi nasi liwet[1], beberapa potong ayam, telor, kanil [2] di teras toko. Hari masih pagi benar. Toko-toko buka nanti jam sembilan. Beberapa anak jalanan yang suka ngelem [3] masih malas bergeletakan di emperan toko. Tubuh mereka yang penuh daki jalanan dan berbalut celana rombeng, diselimuti kain spanduk. Beberapa mas becak juga meringkuk seperti kucing dengan menyesuaikan luas ruangan untuk penumpang di becaknya. Bunyi adzan shubuh rupanya tak membangkitkan seleranya untuk pergi ke mesjid Agung di sebelah barat alun-alun keraton. Beberapa mobil angkutan kota berwarna kuning melintas. Pasar Klewer juga masih sepi. Sangat berbeda dengan suasana selepas jam dlapan pagi. Penuh sesak dengan manusia.

Hari ini nasi liwetku harus habis. Kalau tidak, celakalah. Suamiku – Mas Harno – sudah berusaha meminjam di bank tempatnya bekerja. Tapi apa daya, tetap saja belum mencukupi. Gajinya sebagai satpam di sana hanya cukup untuk makan, bayar listrik, sewa kontrakan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Kalau saja aku tak membantunya dengan berjualan nasi liwet, mungkin rumah tangga kami hanya akan berisi dengan keluhan; seolah-olah tak mensyukuri karunia gusti Allah.  Lanjutkan membaca