Sastra

Kita Pura-pura

“Kita pura-pura bermimpi kehidupan dimulai saat biji kopi ditanam. Kita pura-pura tak merasa perlu menyiraminya. Kita pura-pura tahu langit mengatur semuanya. Kita pura-pura berdiri di Sabang dan berakhir di Merauke menghitung nasib. Kita pura-pura memanennya dengan gembira. Kita pura-pura bersahabat dengan empat penjuru mata angin. Kita pura-pura merasakan kopi itu manis sekali. Kita pura-pura menyampurnya dengan gula. Kita pura-pura tidak terkena diabetes. Kita pura-pura jadi tengkulak. Kita pura-pura tak punya kebun kopi. Kita pura-pura miskin. Kita pura-pura.”

*) Puisi “Kita Pura-pura” ini terkumpul di buku puisi “Air Mata Kopi” (Gramedia, 2014) karya Gol A Gong. Ditulis di Hotel Pum, Sabang, Pulau Weh, 3 Mei 2013. Buku puisi ini masuk 10 besar Hari Puisi Indonesia 2014. Kemudia dimusikalisasikan oleh Mukti Mukti di https://www.youtube.com/watch?v=JwYBLinnkL4

 

Iklan
Sastra

Traveling dan Puisi “Di Dalam Mesjid”

Setiap saya melakukan perjalanan, menulis puisi adalah peristiwa mahal. Pada 2013, sekitar Mei hingga Juni (51 hari), saya melakukan perjalanan dari Sabang hingga Lampung. Satu buku puisi berjudul “Air Mata Kopi” (berisi 40 sajak) berhasil saya tulis dan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama(2014). Alhamdulillah, buku puisi itu masuk 10 unggulan “Hari Puisi Indonesia 2014”. Salahsatu sajak yang saya tulis adalah “Di Dalam Mesjid”. Bacalah: Lanjutkan membaca “Traveling dan Puisi “Di Dalam Mesjid””

Sastra

Sastra Oh Taman Sastra

Sastra dan estetika. Dua hal yang selalu membebani benak kita. Analogikanlah sastra dengan sebuah hand phone. Sekadar sebagai gaya hidupkah, atau alat bantu berkomunikasi? Fungsionalkah atau life style?  Bagi saya, sastra bukan lagi rangkaian kata sensasional atau kontroversial. Tapi juga kerendahan hati, kearifan lokal universal, dan menghargai kesepakatan-kesepakatan, semisal norma-norma di masyarakat dan kehidupan beragama. Sastra juga sebagai alat bantu untuk mengarifkan manusia juga mengingatkan – jika tidak mau ditegur – bahwa suatu saat kita akan mati dan dimintai pertanggungjawaban. Juga untuk menjadikan manusia lebih manusiawi dan lebih bahagia dari sebelumnya. Angka-angka rupiah di atas kertas, kemegahan kursi singgasana dan fenomena logis bukanlah sesuatu yang utama.   Lanjutkan membaca “Sastra Oh Taman Sastra”

Sastra

Tiga Sajak Cinta Gol A Gong

#1.

RINDU

Duduk bermandikan matahari bersamamu, menerjemahkan diam yang tak pernah kumiliki. Jika pun pernah ada, kau menyembunyikannya dari gelisah burung di pagi hari.

Aku tahu setiap gerak gemulai pohon, pertanda kau hadir membawakan rindu. Itu tidak pernah usang, selembar senyummu terbang dibawa daun, melayang jatuh ke pelukanku.

Luka bernanah, kau biarkan itu tertutup oleh cintamu. Setetes hingga kupeluk keabadianmu, berpendar menyatu dalam cahaya. Aku titip rindu ini.

“) Balkon rumah, 7/11/2015 Lanjutkan membaca “Tiga Sajak Cinta Gol A Gong”